Tampilkan postingan dengan label dinar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dinar. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Desember 2015

Daya Beli Dinar (Emas) Untuk Komoditi Riil

Oleh : Muhaimin Iqbal

Banyak cara untuk melihat daya beli emas atau Dinar, dan statistik untuk ini tersedia luas yang disediakan oleh lembaga-lembaga dunia seperti datanya World Bank. Dari data tiga puluh tahun terakhir yang dikumpulkan mereka ini, kita bisa melihat ternyata meskipun harga emas atau Dinar lagi rendah-rendahnya kini - tetap memiliki daya beli yang kuat terhadap benda riil kebutuhan manusia. Daya beli emas tetap kuat untuk komoditi yang renewable maupun non-renewable.

Untuk yang renewable saya ambilkan data harga pisang, dan yang non renewable saya ambilkan dari data minyak mentah. Hasilnya menjadi grafik dibawah.



Bila harga pisang kita bagi harga emas, demikian pula dengan harga minyak dibagi dengan harga emas – maka kita akan memperoleh data daya beli emas selama tiga puluh tahun terakhir.



Bila pada tahun 1985 untuk membeli 1 ton pisang dibutuhkan emas seberat 0.86 troy ounce, saat ini tiga puluh tahun kemudian – 1 ton pisang tetap bisa dibeli dengan 0.86 troy ounce emas. Untuk harga minyak malah emas jauh lebih perkasa, bila pada tahun 1985 diperlukan 0.09 troy ounce untuk membeli 1 barrel minyak, kini hanya dibutuhkan kurang dari separuhnya atau hanya 0.04 troy ounce.

Dari grafik yang pertama di atas kita juga tahu bahwa dibandingkan emas dan minyak, harga pisang cenderung stabil dengan menunjukkan trend kenaikan yang konsisten. Ini terjadi karena harga komoditi seperti pisang relatif bebas dari spekulasi dan sentimen pasar, konsistensi kenaikan harga lebih disebabkan oleh kenaikan demand dan inflasi secara umum.

Sama-sama komoditi pertanian, pisang bahkan jauh lebih stabil kenikan harganya dibandingkan beras. Beras karena dipersepsikan sebagai salah satu kebutuhan bahan pokok pangan dunia, mengundang spekulan harga dan sentimen pasar pada pergerakan harganya. Jadi perilaku harga beras ini mirip dengan harga minyak.



Ketika terjadi krisis financial global tahun 2008, harga minyak dan harga beras di pasaran internasional melambung tinggi tetapi tidak dengan harga pisang.

Grafik harga-harga komoditi selama tiga puluh tahun tersebut menyiratkan banyak hal untuk kita, antara lain bahwa daya beli emas terbukti tetap tangguh selama tiga puluh tahun terakhir – termasuk ketika harganya lagi rendah seperti saat ini.

Kita juga bisa belajar bahwa komoditi yang tidak dipersepsikan sebagai bahan kebutuhan pokok – justru memiliki trend kenaikan harga yang lebih stabil, karena tidak mengundang spekulan harga untuk mempermainkannya dan relatif bebas dari pergerakan sentimen pasar. Ini bisa menjadi pertimbangan bagi yang ingin terjun ke sektor riil seperti pertanian. InsyaAllah.

(sumber: geraidinar.com)

Kamis, 10 November 2011

Ketika Realita Tak Seindah Cita-cita...

Hikayat 3 Pohon Kayu…
Oleh Muhaimin Iqbal
Rabu, 09 November 2011 07:23

Seorang petani menanam tiga bibit pohon kayu di halaman rumahnya, disiraminya setiap hari, dipupuknya dan dirawatnya dengan baik seraya berharap akan tingginya nilai pohon kayu ini nantinya. Seperti ‘tiga anak’ petani yang tumbuh dewasa bareng, ketiga pohon ini-pun selalu berbagi suka dan duka. Suatu hari salah satu dari pohon ini mengajak dua ‘saudara’-nya untuk berbagi cita-cita.

Pohon yang pertama memulai, dia ingin kelak menjadi kayu yang berserat indah sehingga menarik siapapun yang melihatnya. Dia ingin diukir menjadi kotak perhiasan para raja dan ratu karena keindahannya. Pohon kedua bercita-cita ingin menjadi kayu yang sangat kuat, sehingga para pembuat kapal akan mengambilnya untuk menjadi bahan kapal samudra yang menjelajah dunia.

Giliran pohon ketiga berbagi, dia ingin tetap hidup sampai menjadi pohon kayu yang sangat besar dan kuat, dengan daun-daun yang menjulang sehingga bisa mendekati para makluk langit.

Ketika mereka baru mencapai separuh usia, si petani membutuhkan halaman rumahnya untuk keperluan lain. Di potong-lah ketiga pohon ini ketika pohon pertama belum berhasil membentuk serat yang indah, pohon kedua belum menjadi kayu yang kuat dan pohon ketiga belum sempat memiliki daun yang menjulang ke langit.

Oleh si petani dipotong-potongnya kayu-kayu ini dan ditumpuk di halaman rumahnya. Hancur luluh ‘hati’ ketiga kayu ini karena mereka mengira bahwa semua cita-citanya telah kandas di tengah jalan.

Melihat kayu yang hanya dionggokkan di depan rumah, orang-orang yang lewat suka meminta ke petani ini untuk diberi sebagian dari kayu-kayu tersebut. Yang pertama datang adalah seorang tua yang membutuhkan kayu untuk membuat rehal (meja kecil untuk mengaji) bagi anaknya, maka diberinya dia dari bagian kayu pertama.

Yang kedua datang seorang nelayan yang membutuhkan sedikit kayu untuk menambal kapal ikannya yang bocor, diberinyalah dia bagian dari kayu kedua. Yang ketiga datang adalah seorang penggali kubur, yang membutuhkan kayu untuk penghalang antara jasad mayat dengan timbunan tanah – maka diberinyalah dia bagian dari kayu ketiga.

Semakin sedihlah kayu-kayu tersebut karena bukan hanya dipisahkan dari teman-temannya, mereka juga semakin jauh dari cita-cita semula. Namun sebenarnya kayu-kayu ini tidak perlu bersedih kalau tahu apa yang akan terjadi, Sang Pencipta memiliki rencana yang lebih indah dari apa yang mereka cita-citakan.

Kayu yang pertama yang diminta orang tua untuk membuat rehal bagi anaknya tersebut, kelak akan melahirkan anak yang hafal Al-Qur’an dan menjadi ulama besar ketika dewasanya. Posisi rehal yang memiliki kemiringan tertentu, bukan hanya memudahkan anak-anak membaca Al-qur’an tetapi juga memudahkan untuk mengingatnya karena seolah mereka seperti menyusun ayat- demi ayat pada rak-rak yang rapi di otaknya.

Kayu yang menjadi rehal ini lebih indah dari sekedar menjadi tempat perhiasan, karena yang ikut ‘disimpan’-nya adalah ayat-ayat Allah yang menancap kuat di otak anak yang mengaji dengan meletakkan Al-Qur’an di rehal tersebut.

Kayu yang kedua ketika telah menjadi penambal kapal ikan yang bocor suatu saat dipakai untuk pergi menangkap ikan oleh si nelayan dengan anak laki-lakinya. Dalam perjalanan ombak besar menghantam kapal nelayan yang kecil tersebut dan pecah berkeping-keping. Sang ayah hilang ditelan ombak, sedangkan si anak berpegangan pada sebilah kayu – ya bagian kayu tambalan tersebut – untuk akhirnya selamat terbawa arus ke pantai.

Kayu yang menjadi sarana Allah untuk menyelamatkan nyawa anak yang telah menjadi yatim ini, lebih bernilai dari sekedar bagian dari kayu kapal yang menjelajah samudra karena kelak si anak yatim ini menjadi pemimpin umat yang adil dan bijaksana.

Adapun kayu yang ketiga yang digunakan untuk menguburkan jenazah, ternyata dia dipakai untuk menguburkan jenazahnya seorang yang sangat soleh – sehingga ketika masih di kubur-pun sudah sering diperlihatkan surga kepadanya. Kayu kuburan ini ikut menjadi saksi akan keindahan surga dan para penghuninya, menjadi kayu kuburan ini lebih indah dari cita-cita semula tumbuh besar dan kuat dengan daun menjulang ke langit.

Kita sering frustasi, sedih dan putus asa manakala cita-cita dan keinginan kita tidak terscapai. Kita sedih dan putus asa karena kita sok tahu bahwa seolah yang terbaik itu yang kita cita-citakan atau kita inginkan.

Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Tahu yang terbaik untuk kita, InsyaAllah kita tidak akan pernah bersedih bila kita yakin bahwa scenario yang lebih indah dari cita-cita dan keinginan kita telah disiapkan olehNya.

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS 57 : 22-23).

dikutip dari: geraidinar.com

Selasa, 29 Maret 2011

Think Dinar! Muslim Kaya Hari Ini, Super Kaya di Masa Depan

Percayakah, biaya haji turun setiap tahun, biaya sekolah semakin murah, biaya hidup semakin rendah? Jika Anda berpikir DINAR! Pernyataan ini ditulis Endy J. Kurniawan dan terpampang jelas pada cover buku terbarunya yang berjudul “Think Dinar! Muslim Kaya Hari ini, Super Kaya di Masa Depan”.

Endy yakin kalau Dinar merupakan satu-satunya investasi (mata uang) yang trbukti anti inflasi. Bicara Dinar bukannya hanya soal emas atau uang emas semata. Bicara Dinar berarti juga bicara tentang investasi, ekonomi dunia, kebijakan politik, kesejahteraan umat manusia dan segala aspek kehidupan.

Di masa kini bisa dipastikan mereka yang Think Dinar (berpikir Dinar) akan lebih sejahtera dari mereka yang berpikir investasi dan financial secara konvensional. Di masa depan, akan terbukti mereka yang Think Dinar! akan menjadi yang selamat dari berbagai permasalahan krisis di masa depan. Setidaknya terbukti saat Islam bisa memimpin dunia berabad-abad karena menggunakan Dinar.

Buku ini akan mengungkap Dinar secara utuh bukan hanya sebagai alat investasi tapi juga solusi masa kini dan masa depan bagi Anda. Secara lengkap pembaca akan mendapatkan ilustrasi berbagai bentuk investasi dan membandingkannya dengan Dinar.

Buku yang diterbitkan Asma Nadia Publishing House ini dijual dengan harga Rp.57.000. Dengan buku yang ditulisnya ini, Endy mengajak kita untuk mengetahui segala seluk beluk tentang Dinar. Anda akan takjub melihat bagaimana Dinar bisa membantu mengatasi solusi masalah Anda (menabung untuk haji, biaya pendidikan, hari tua, bahkan membayar hutang) dan umat manusia secara keseluruhan. (Rahmat HM)

sumber: majalah franchise

Senin, 28 Maret 2011

Ayam (Jangan) Mati di Lumbung Padi


Saya sering menerima masukan bernada kritik bahwa menyimpan emas termasuk kategori menimbun harta, sementara menimbun harta itu dilarang karena membuat harta tak beredar untuk menggerakkan ekonomi, dan ujungnya dikhawatirkan memiskinkan sebagian masyarakat. Islam melarang penimbunan harta, tidak ada keraguan.

Jawaban awal yang bisa dikedepakan untuk hal ini sebenarnya adalah adanya perintah zakat, anjuran infaq, shadaqah dan wakaf harta. Islam mengatur ini karena pasti selalu ada bagian harta kita, atau selalu ada sebagian masyarakat, yang mendiamkan hartanya. Maka zakat, infaq, shadaqah, wakaf (juga qardun hasan/pinjaman baik – pinjaman tanpa imbal hasil apapun, dan semata-mata untuk tujuan menggerakkan ekonomi masyarakat) adalah semacam ‘flushing’ di peredaran darah ekonomi, agar harta macet di simpul arteri bisa berjalan kembali.

Dengan mekanisme ini, ekonomi menjadi seimbang kembali, dan pihak-pihak hepi. Terangkat derajat dan kesejahteraannya bersama. Selalu ada gap antara yang miskin dan yang kaya, tapi jaraknya tipis saja. Pada jaman Umar ibn Khattab dan Umar bin Abdul Aziz tercatat, level ekonomi terbawah terkikis habis, sehingga sulit salurkan zakat, bukan karena tak ada muzakki, tapi justru tak ada mustahik. Level ekonomi menengah tetap ada, tapi mereka bukan objek penerima zakat dan jaminan negara. Sehingga di masyarakat, bagian piramida terbawah hilang. Jumlah terbesar ada di level menengah, dan sebagian kecil di level atas.

Bandingkan dengan fakta yang ada di masyarakat sekarang. Menurut Ust. Dr. Irfan Syauqi Beik, potensi zakat Indonesia Rp 100 Trilyun per tahun (dunia : Rp 6 ribu Trilyun), baru terkumpul 1,5% – nya atau hanya Rp 1,5 Trilyun. Angka ini jelas belum mampu menjadi solusi kemiskinan dan pengembangan taraf kehidupan separuh lebih penduduk negeri ini yang berada di bawah garis kemiskinan. Hasil litbang Kompas yang dikutip geraidinar.com menyebutkan penduduk miskin dengan pengeluaran USD 2 – 4 per hari berjumlah 59,24% atau 146,3 juta jiwa. Ini mendekati angka World Bank yang menyebut angka 170 juta jiwa, dan 3 kali lipat lebih dibandingkan angka versi pemerintah yang meng-klaim ‘hanya’ 30 juta penduduk miskin.

Apakah memang menyimpan emas termasuk menimbun harta? Jika kewajiban ziswaf ditunaikan dan menjadi kesadaran kolektif sehingga potensi sebesar Rp 100 Trilyun per tahun di negeri ini benar-benar dapat digalang, menurut saya tidak ada celah untuk saling menyalahkan. Itu baru tentang zakat, PR pertama kita.

Ada hal lain, seringkali muncul desakan pertanyaan berikutnya : “Harta masyarakat harus lebih banyak mengalir lewat lembaga keuangan dan perbankan, agar ekonomi bisa bergerak lebih cepat. Jika menyimpan emas, ini tak terjadi.”

Saya harus tanya balik untuk memastikan yang bertanya tahu keterhubungan langsung jumlah dana yang kita tabung dengan produktivitas ekonomi. Jika kita menabung atau menyimpan sejumlah uang di bank, berapa dari jumlah itu yang akan mengalir untuk membiayai roda ekonomi sehingga menyebabkan pertumbuhan?

Sekitar 10%-15% jika Anda tabung di bank konvensional.
Atau mencapai 70% jika Anda tabung di bank syariah.

Saya mesti bilang Anda yang menyimpan uang jutaan bahkan milyaran rupiah di bank-bank konvensional sebagai orang yang dzalim yang merugi, apalagi jika tak keluarkan zakatnya. Dzalim karena uang itu kecil sekali yang menetes ke level ekonomi di bawah untuk jadi modal usaha dan lainnya, dan inilah sebenarnya hakikat menimbun harta. Rugi karena return-nya tak memadai, kalah dari laju inflasi : naik 6% – 8% per tahun saja, melawan inflasi yang mencapai rata-rata 10% (6% inflasi umum dan 12% inflasi kebutuhan pokok). Berdosa pula karena tak tunaikan zakat. Lebih-lebih tak barakah (bertambah) karena tak keluarkan shadaqah.

(Untuk diketahui, masyarakat kita juga masih ‘tak adil’ dalam berzakat. Mereka sibuk bertanya nishab-haul zakat hanya ketika simpanannya emas, padahal tabungan, deposito dan simpanan lainnya di bank juga adalah objek zakat)

95% dari total uang beredar di muka bumi digulirkan, digandakan segelintir pihak, menciptakan gelembung uang yang semu di sektor keuangan, bukan di sektor riil yang berarti memperbesar produksi untuk mengimbangi konsumsi.

Maka sebetulnya sungguh aneh, di tengah melesatnya IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan), mengalirnya Hot Money dari luar Indonesia ke bursa semenjak pertengahan 2010, kemudahan memperoleh kredit (konsumtif) di tengah masyarakat, Indonesia sendiri terancam de-industrialisasi. Sinyal kekhawatiran ini dikirim sendiri oleh Bank Indonesia, berikut dampaknya : turunnya nilai tambah industri nasional, tergerusnya aktivitas perekonomian, pengangguran dan kemiskinan.

Banyak sekali fakta negatif diluar sana. Bayangkan, non-productive loan, semacam kredit usaha yang telah disetujui, parkir sebesar puluhan trilyun di bank. Ini terjadi juga di banyak negara, terutama Amerika. Kredit itu seharusnya mengalir menjadi tambahan modal di sektor industri untuk menggerakkan ekonomi, tapi tak jadi, karena kekhawatiran akan resiko usaha, dan penerima kredit merasa lebih untung dan pasti mendapatkan keuntungan (berupa bunga) dengan cara membuat dana itu parkir di bank. Atau di-investasikan di sektor keuangan, bukan di sektor riil.

Di sisi lain, pengusaha kecil sulit sekali mendapatkan dana pinjaman. Padahal mereka sangat membutuhkannya untuk perluasan usaha, ekstensifikasi market dan penambahan tenaga kerja. Melihat dua fakta diatas, sungguh tak adil. Situasi ini disebabkan oleh rendahnya dukungan sektor perbankan dalam pemberian kredit ke sektor industri. Fokus mereka masih di sektor jasa keuangan, yang tak berhubungan langsung dengan penyerapan tenaga kerja dan tersedianya produk yang murah di pasar.

Selama 2010, pertumbuhan industri hanya 4%, tertinggal dari pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6%. Angka pengangguran bertambah. Di pasar, pelaku usaha lebih mudah dan murah memperdagangkan barang impor (terutama dari Cina) daripada memperjualbelikan hasil industri dalam negeri yang justru lebih mahal dan tak terjangkau harganya oleh pembeli. Cina dan India, dua negara yang sama potensinya (persentase kapasitas tersimpan) dengan Indonesia dalam hal sumber daya manusia/tenaga kerja adalah dua negara yang mampu menyeimbangkan kemampuan produksinya daya beli pasar. Sementara Indonesia, seperti diakui Menkeu pada awal dilantiknya, 70% aktivitas ekonominya digerakkan oleh sektor konsumsi.

Maka sebetulnya persoalan tak sesederhana ketika kita melontarkan ‘tuduhan’ bahwa menyimpan emas berarti telah menginisiasi mandeg-nya perekonomian.

Kesadaran ber-zakat, infaq dan shadaqah masyarakat masih sangat rendah (meski terus meningkat tiap waktu), di sisi lain kebijakan perbankan yang tak mendukung sektor riil, adalah dua sebab yang paling sistemik menyebabkan banyak persoalan ekonomi.

Masyarakat punya logika dan pertimbangan sendiri ketika memutuskan apakah menyimpan emas ataukah tabungan untuk keperluan penyelamatan asset pribadi.

Mereka akan memilih yang terbaik dari sisi proteksi untuk melindungi simpanan dari ancaman inflasi. Mereka memerlukan simpanan yang melindungi Rupiah yang setiap saat bisa tak bernilai karena dibenamkan depresiasi nilainya terhadap mata uang asing. Mereka mementingkan likuiditas (kemudahan dalam mencairkan ketika memerlukan dana tunai) saat ada kebutuhan mendadak ataupun perlu tambahan modal usaha.

Semua jawabannya ada pada simpanan emas. Bukan simpanan di produk perbankan.

Wallahua’lam

Penulis: Endy J. Kurniawan, Pengarang Buku "Think Dinar"
sumber: http://endyjkurniawan.com