Kamis, 29 September 2011

Upaya Meraih Haji Mabrur



Tidak terasa kita telah memasuki musim haji, Kita mengetahui gairah umat Islam Indonesia untuk melaksanakan ibadah haji terhitung sangat luar biasa, karena mulai tahun ini yang masuk daftar tunggu ibadah haji bukan hanya untuk ONH biasa akan tetapi ONH Plus pun sudah ada daftar tunggunya.

Ini menggambarkan betapa gairah umat Islam untuk menjalankan ibadah haji patut kita syukuri. Jatah tahun ini jamaah Indonesia kurang lebih 221.000 orang, itu yang resmi lewat Departemen Agama. Artinya kalau 221.000 jamaah Indonesia berangkat setiap tahun dan seluruhnya mendapatkan haji mabrur lalu kemudian mampu mewujudkan kemabrurannya dalam hidup dan kehidupannya kembalinya ke tanah air, maka dari tahun ke tahun orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah akan semakin banyak dan jika itu tercapai, maka apa yang dijanjikan oleh Allah, bahwa Allah SWT akan menurunkan rahmat dari langit dan barokah dari bumi akan segera kita rasakan.

Allah SWT berjanji “jika penduduk suatu negeri itu benar-benar beriman dan bertaqwa kepada Allah, maka Aku turunkan barokah dari langit dan akan aku tumbuhkan barokah dari bumi, akan tetapi jika bangsa itu mendustakan maka yang akan datang adalah azab yang akan Aku datangkan penduduk pada negeri itu“.

Oleh karena itu kita do’akan mudah-mudahan saudara-saudara kita yang sedang melaksanakan haji tahun ini dan tahun yang akan datang benar-benar mendapatkan haji mabrur dan diberikan kemauan dan kemampuan untuk mewujudkan kemabruran setelah dia kembali ke tanah air.

Kenapa haji itu begitu diminati oleh banyak orang? Karena haji adalah ibadah yang bisa menghapus seluruh dosa dan kesalahan. Haji adalah ibadah yang bisa mengembalikan kita kepada posisi seperti ketika kita dilahirkan oleh ibu kita. Ibadab haji adalah ibadah yang akan menjauhkan kita dari siksa api neraka. Ibadah haji adalah ibadah yang akan mengantarkan kita masuk ke dalam surga. Ibadah haji adalah ibadah dimana seluruh harta yang digunakan dihitung sebagai shadaqoh. Itulah yang menyebabkan setiap umat yang mengaku dirinya Islam termotifasi untuk bisa melaksanakan ibadah haji.

Ada pertanyaan pada diri kita, apakah semua orang yang melaksanakan ibadah haji itu mendapatkan 5 yang dijanjikan itu, jawabnya adalah tidak semua. Tidak semua orang yang melaksanakan ibadah haji mendapatkan 5 yang dijanjikan, karena kecenderungan orang yang melaksanakan haji dia bisa kembali dengan sebutan haji mabrur, atau juga kembali dengan sebutan haji mardud.

Kiat-kiat mendapat haji mabrur

Pertama, ibadah haji itu dilandasi dengan niat yang ikhlas semata-mata mencari keridhoan Allah. Di dalam al qur’an Allah menyebutkan ada 2 ayat yang merintahkan kepada kita untuk melaksanakan ibadah haji karena Allah.

Ayat pertama “hanya karena Allah kita melaksanakan ibadah haji ke Baitullah“.
Ayat kedua “tunaikan haji dan umroh karena Allah dan hanya mencari keridhoan
Allah“.

Jika Allah SWT menyebutkan Haji itu harus lillaahi ta’aalaa sampai dua kali dan dua ayat, ini menggambarkan kepada kita ada orang yang melaksanakan ibadah haji tetapi

dia tidak lillahi ta’ala. Oleh karena menjadi kewajiban dan keharusan ketika ingin mendapatkan haji mabrur, maka kita harus menjaga niat itu dengan sebaik-baiknya.

Dengan apa kita menjaganya?.
  • Kita menjaga dengan ilmu pengetahuan. 
  • Kita menjaganya dengan amal. 
  • Kita juga menjaganya dengan do’a. 
Oleh karena itu kita menjaga dengan 3 persoalan ini mulai sekarang, ketika dalam pelaksanaan dan bahkan sampai kembali ke tanah air dengan niat yang ikhlas harus tetap kita jaga.

Ketika kita menjaganya dengan ilmu dan amal tentu itu merupakan kewajiban kita, tetapi kita harus menyadari usaha dan upaya yang dilakukan tanpa pertolongan dan kekuatan apa yang Allah berikan-Nya kita tidak mungkin mendapat apa yang diinginkan itu tercapai, oleh karena itu dibarengi dengan do’a yang tulus.

Sebab jangankan kita sebagai manusia biasa nabi Sulaiman as yang Allah berikan kekuasaan, kekayaan dan diberikan ilmu pengetahuan sampai mampu berbicara dengan semut, apa yang selalu ditakutkan oleh nabi Sulaiman itu ?. Bukan hilangnya kekuasaan, bukan hilangnya harta kekayaan dan bukan hilangnya ilmu pengetahuan tetapi yang paling yang ditakutkan adalah tidak pandai bersyukur kepada Allab, karena setiap kali berdo’a nabi Sulaiman itu tidak pernah lupa dengan ucapan “Robbi auzi’ni an asykuro ni’mataka allati an’amta ‘alaya – ya Allah Jadikanlah aku orang yang pandai bersyukur atas nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku“.

Ini yang menggambarkan kepada kita bahwa selain usaha yang kita lakukan tidak boleh lupa terhadop do’a kekuatan Allah yang bisa diberikan kepada kita. Godaan terhadap niat bisa dimulai pada saat kita berada di tanah air, bisa terjadi di saat perjalanan dan bisa terjadi ketika dalam pelaksanaan ibadah haji itu sendiri, tetapi kalau sejak awal kita menjaganya dengan sebaik-baiknya, maka tujuan tersebut dapat tercapai.

Kedua, ibadah haji itu dilaksanakan dengan Ittiba. Melaksanakan ibadah haji seperti yang dicontohkan oleh nabi. Ada saja ketika ibadah haji kita seperti yang dicontohkan seperti nabi kemudian ada orang yang berkomentar, “kalau begitu kita pakai unta“. Padahal yang diperintahkan ibadahnya bukan fasilitasnya. Nabi mengatakan “ambillah cara ibadah haji ku” di dalam hadits lain “barangsiapa yang melakukan satu amal yang tidak ada contohnya dari aku maka amal itu akan ditolak“.

Ini menggambarkan betapa haji itu harus seperti yang dicontohkan nabi dan ternyata kalau kita melaksanakan ibadah haji seperti yang dicontohkan oleh nabi akan terasa mudah dan enteng. Seperfi melaksanakan tawaf, kalau kita kembali kepada contoh Rasulullah ketika melaksanakan tawaf tidak ada do’a khusus yong diajarkan oleh nabi yang harus kita baca pada saat tawaf dilaksanakan selain “Bismillahi Allahu Akbar“, pada saat kita sejajar dengon Hajjar Aswad “robbana aatinaa fiddunyaa hasanah wafil akhiroti hasanah waqinaa adzabannar“.

Tetapi bagaimana kita mampu menghayati kalimat demi kalimat, kata demi kata dari apa yang kita ucapkan dari pada kemudian kita membaca-bacaan yang sangat panjang kita pun tidak mampu memahaminya karena itu tidak akan melahirkan kekhusuan pada saat kita melaksanakan tawaf. Terlebih ketika kita berada di Arofah yang merupakan puncaknya pelaksanaan ibadah haji, wukuf dimulai sejak tergelincir matahari sampai tenggelam matahari, satu riwayat disebutkan menjelang tenggelamnya matahari, dimana Rasulullah SAW menugaskan Bilal bin Rabah, “bilal kumpulkan umatku suruh mereka mendekat kepadaku dan suruh mereka diam untuk mendengarkan khutbahku“.

Di depan umat Rasulullah SAW menyampaikan dalam khutbahnya “Allah SWT turun ke langit bumi Dia lebih dekat dengan kita, kemudian datang Malaikat Jibril menemuiku dan dia menyampaikan salam dari Allah SWT untuk aku dan Malaikat Jibril juga menyampaikan kepadaku bahwa Allah dan seluruh Malaikat bangga melihat umatku di Arofah dengan rambuf kusut dan penuh dengan debu karena di situ untuk berdzikir dan beristighfar kepada Allah SWT“.

Kemudian Rosul menyampaikan siapa saja yang berada di Arofah maka Allah ampunkan seluruh dosa dan kesalahannya baik yang sekarang maupun yang akan datang hingga sampai hari kiamat nanti. Ini artinya sebuah gambaran bagi kita bahwa mengiringi dan tenggelamnya matahari pada tanggal 9 dzulhijjah itu adalah saat-saat Allah akan mengampuni seluruh dosa dan kesalahannya, karena itu kita harus memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Karena di saat itulah prosesi pengampunan dosa akan diberikan oleh Allah.

Ada seorang sahabat yang jatuh dari untanya kemudian dia meninggal, kata Rasulullah, “mandikan dia kemudian bungkus dengan kain ihromnya jangan ditutup kepalanya. Nanti orang tersebut akan dibangkitkan pada hari kiamaf dan dia dalam keadaan membaca kalimat talbiah – labbaikaAllahummalabbaik labaikala syariikalaka labbaik innalhamda wa’nni’matba lakawalmulka lasyariikalaka – Kami sambut seruan-Mu ya Allah, kami datang menunaikan panggilan-Mu, kami datang kehadirat-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, Puji nikmat dan Kekuasaan adalah milik-Mu semata, Tiada sekutu bagi-Mu ya Allah“.

Kalau dibangkitkan dalam keadaan talbiah kita sudah bisa menduga dimasukkan dia ke dalam surga. Kenapa Allah memasukkan ke dalam surga? karena dia meninggal di Arofah pada saat Allah sudah mengampuni seluruh dosa dan kesalahan.

Ketiga, ibadah haji dilakukan dengan kesabaran. Pelaksanaan ibadah haji adalah prosesi pengampunan dosa dan pasti banyak godaan dan cobaan, ketika Allah mengampuni dosa ada yang tidak senang dan yang tidak senang itu adalah syetan.

Oleh karena itu godaan setelah Arofah tentu lebih berat dibandingkan sebelum Arofah, maka agar supaya kita mempunyai kesabaran lakukanlah berdzikir dan sebaik-baiknya dzikir adalah membaca al qur’an. Jika kita sibuk membaca al qur’an apapun yang terjadi kita tidak akan merasakan berat, apapun yang terjadi kita tidak merasakan sulit karena kita telah tenang dengan sibuk membaca al qur’an waktu yang semula panjang menjadi terasa pendek.

Keempat, ibadah haji hendaknya kita memanfaatkan peluang yang Allah berikan kepada kita unfuk melipat gandakan pahala amal kita. Shalat di Masjid Nabawi nilainya sama dengan sepuluh ribu kali shalat di masjid yang lain.

Kita menghitung secara matematik kalau di Indonesia melaksanakan sholat sunnah 10 rakaat sehari maka 1 tahun mencapai 3650 rakaat dalam setahun. Tetapi kalau kita melaksanakan shalat di Masjid Nabawi 20 rakaat sama dengan 200.000 rakaat di Indonesia, padahal kalau kita ingin mendapatkan 100.000 rokaat di Indonesia sehari 10 rakaat paling kurang kita memerlukan waktu 54 tahun, apalagi kalau di Masjidil Haram mampu melaksanakan sholat sunnah 10 rokaat itu sama dengan 1 juta rakaat di indonesia, padahal kalau kita ingin mendapatkan 1 juta rakaat itu di Indonesia sehari 10 rakaat kita memerlukan waktu tidak kurang 270 tahun sesuatu waktu yang tidak memungkinkan kita untuk mendapatkannya.

Karena itu peluang yang Allah berikan kepada kita ini juga adalah wujud sayang Allah kepada kita agar kita mampu menggadakan pahala dan amal kita baik di Masjidil Haram 100.000 kalinya dan di Masjid Nabawi 10.000 kalinya. Itulah yang membawa kita untuk mendapatkan haji yang mabrur yang dilandasi dengan keikhlasan dilaksanakan seperti yang dicontohkan kemudian kita memperluas gudang kesabaran dengan cara berdzikir kepada Allah dan memanfaatkan peluang untuk meningkatkan nilai pahala amal kita.

Insya Allah manakala itu yang kita lakukan, maka Allah akan berikan haji yang mabrur dan Allah pula akan memberikan janjinya yaitu mengembalikan kita dengan mengampuni seluruh dosa dan kesalahan kita dan mengembalikan kepada posisi kita seperti ketika dilahirkan oleh ibu kita. Menjauhkan siksa dari api neraka serta menghantarkan kita masuk surga dan Insya Allah akan mengganti seluruh harta yang kita gunakan untuk beribadah, amin ya robbal alamin.

sumber: mimbarjumat.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar